RSS

Penyebab Permusuhan Indonesia-Malaysia

20 Okt

Memanasnya hubungan antara Indonesia dan Malaysia pun kembali terjadi akibat beberapa waktu yang lalu Malaysia merebut kembali kebudayaan Indonesia dalam iklan pariwisatanya, yaitu adalah tari pendet. Tari pendet ini diiklankan di salah satu channel luar yaitu di Discovery Channel. Masyarakat indonesia langsung memanas karena melihat iklan tersebut, apalagi dengan ditambahnya media media cetak maupun elektronik yang secara gencar mengekspos terus. sebenarnya iklan itu menunjukkan krisis identitas dalam kebudayaan yang sedang dialami oleh Malaysia sehingga mengambil budaya-budaya yang ada di Indonesia.

Berbicara mengenai konflik Indonesia Malaysia, hal itu sudah lama terjadi bahkan ketika Malaysia baru berdiri. Seperti yang kita tahu kemerdekaan Malaysia adalah ‘pemberian’ Inggris sebagai penjajahnya. Secara nama, Malaysia yang berasal dari kata Malaya itu tentu saja logikanya jika akan dibuat Negara tentu ya wilayah jajahan Inggris di Semenanjung Malaya. Pertamanya memang seperti itu dan Indonesia tidak mempermasalahkan bedirinya Malyasia itu. Negara Malaysia atau yang lebih tepatnya Federasi Malaysia adalah negara federasi gabungan dari beberapa kerajaan local di wilayah Semenanjung Malaysia. Kalimantan Utara yang terdiri dari tiga wilayah yaitu Sabah, Sarawak dan Brunei tidak termasuk ke dalam wilayah Malaysia namun masih tetap berupa koloni Inggris.

Namun ternyata Inggris memepunyai rencana lain tentang Negara Malaysia. Inggris hendak menggabungkan Kalimantan sebelah Utara bersama wilayah Semenanjung Malaya dalam satu Negara bernama Malaysia. Terang saja Soekarno selaku Presiden Indonesia saat itu sangat marah dan tidak terima. Bukan masalah Kalimantan Utara yang tidak masuk wilayah Indonesia itu tapi keberadaan Negara itu justru akan mengancam kedaulatan Indonesia karena hanya merupakan boneka Inggris. Jika wilayah Kalimantan Utara itu diisi Negara bentukan Inggris tentu peluang Inggris menguasai Indonesia, terutama Kalimantan, sangat besar. Tinggal lintas darat sudah sampai Kalimantan. Disamping itu semangat yang sedang berkembang di dunia adalah anti neo imperialism dan neo kolonialisme sedangkan penggabungan wilayah Inggris itu bisa dikatakan neokolonialisme.

Soekarno tidak sembarangan beralasan seperti itu karena fakta memang membuktikan demikian. Indonesia mempunyai pengalaman yang tidak mengenakkan dengan percobaan neokolonialisme. Saat sekutu datang ke Indonesia, yang saat itu Indonesia sudah merdeka, dengan dalih melucuti Jepang ternyata sekutu diboncengi Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Bukan tidak mungkin kelak Negara Malaysia yang terletak di utara Kalimantan itu bisa diboncengi kepentingan Inggris. Kalau sampai Federasi Malaysia dan Kalimanan Utara bergabung tentu control Inggris di wilayah Asia Tenggara itu bisa menjadi semakin kuat.

Dan ternyata ketidaksetujuan penggabungan itu juga dirasakan oleh rakyat di sekitar Kalimantan Utara itu. Mereka mempunyai alasan berbeda dengan pemerintah Indonesia yang cenderung beralasan politik keamanan. Rakyat Kalimantan Utara ingin membentuk Negara sendiri karena mereka merasa berbeda baik secara ekonomi, politik, sejarah bahkan juga kebudayaan dengan rakyat di Semenanjung Malaya. Ketidaksetujuan itulah yang mengantarkan terjadinya peperangan diwilayah Kalimantan Utara sana. Peperangan itu praktis bukan antara Indonesia melawan Malaysia, tapi antara pasukan Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU) melawan Tentara Inggris baik dari Komando Timur Jauh maupun Brigade Gurkha yang aslinya adalah orang-orang Nepal. Ketika ada segelintir TNI yang terlibat itu bukan tindakan resmi pemerintah. Tentara Malaysia? Tidak ada kabar dan semakin membuktikan bahwa Kalimantan Utara memang hanya hendak dijadikan boneka Inggris.

Peperangan di wilayah Kalimantan Utara itu terus berlangsung dengan tanpa keterlibatan pemerintah Indonesia aktif secara resmi. Untuk mengatasi peperangan itu secara diplomasi, para calon Negara-Negara anggota Malaysia dan pemerintah Indonesia serta Filipina berunding di Manila 31 Juli 1963. Akhirnya dicapai kesepakatan pembentukan Negara Malaysia baru itu boleh terjadi asalkan diadakan referendum apakah wilayah yang disengketakan itu [Sabah, Sarawak, Brunei] ingin bergabung dengan Malaysia atau tidak. Sayangnya ternyata kesepakatan itu dikhianati oleh Malaysia yang secara sepihak menyatakan bahwa calon Negara-Negara bagian yang ada, termasuk Sabah dan Sarawak , bergabung dengan Malaysia. 16 September 1963 dijadikan hari persatuan mereka meskipun hari kemerdekaan tetap dianggap 31 Agustus 1957 saat semenanjung Malaya dimerdekakan Inggris. Soekarno benar-benar marah atas keputusan sepihak ini. Ketika Malaysia bergabung dengan PBB dan menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, Indonesiapun dibawa Soekarno keluar dari PBB 7 Januari 1965.

Sementara Sabah Sarawak dinyatakan bergabung dengan Malaysia, peperangan masih saja berlangsung di wilayah itu. Peperangan itu juga disertai demonstrasi di masing-masing kedutaan. Puncak peperangan itu adalah ketika terjadi serangan di wilayah Tebedu [perbatasan Indonesia Malaysia]. Versi lain menyebutkan adanya terjadinya perobekan foto Soekarno disertai diinjaknya Garuda Pancasila oleh Tunku Abdul Rahman, PM Malaysia pada tanggal 18 September 1963 atau dua hari setelah penggabungan itu. Meskipun tindakan itu dilakukan atas paksaan demonstran namun Soekarno terlanjur marah dan Indonesia secara resmi dan terbuka melakukan konfrontasi militer dengan Malaysia. Militer Indonesia menyerang Kalimantan Utara dan Semenanjung Malaya dengan slogan yang sangat terkenal bernama Ganyang Malaysia. Perseteruan dan konflik itu baru selesai setelah presiden Soekarno digantikan Soeharto sekitar tahun 1966.

Jadi sebenarnya konflik Indonesia Malaysia boleh dibilang atas kuasa adu domba Inggris sekaligus terlalu patuhnya Malaysia pada Inggris. Soekarno sama sekali tidak ingin menganeksasi Sabah Sarawak [Kalimantan Utara] sebagai bagian dari Negara Indonesia. Ketidaksetujuan penggabungan Sabah Sarawak menjadi Malaysia itu lebih dikarenakan menghindari adanya control yang sangat berlebihan dari Inggris apabila Negara bonekanya bersatu. Iu adalah bentuk imperialism dan kolonialisme baru. Bersatunya wilayah jajahan Belanda menjadi Indonesia tidak bisa disamakan dengan persatuan Malaysia itu karena bersatunya Indonesia adalah dengan kuasa dan usaha rakyat Indonesia sendiri, bukan sekedar penyatuan tanpa keinginan rakyat. Soekarno mempersilahkan jika wilayah-wilayah Kalimantan Utara mendirikan Negara sendiri. Hal itu paling idak ditunjukan Indonesia dengan mempersilahkan rakyat Kalimantan Utara bereferendum menentukan nasibnya sendiri. Yang amat disayangkan lainnya Federasi Malaysia juga diam-diam saja waktu itu saat akan penggabungan Kalimantan Utara menjadi Negara Malaysia, padahal secara sejarah politik, ekonomi dua wilayah itu sangat berbeda.

Sekalipun praktis secara perang terbuka sudah selesai namun ternyata bibit-bibit permusuhan itu masih ada sampai sekarang. Dan sayangnya lagi-lagi dipicu oleh Malaysia. Kalau dulu disebabkan imperialisme dan kolonialisme baru Inggris atas nama Malaysia kepada wilayah Kalimantan Utara, sekarang dilakukan sendiri oleh Malaysia tanpa bantuan Inggris dengan berbagai klaim budaya Indonesia dan pelanggaran perbatasan dalam usaha ekspansi wilayah sampai yang paling sering berupa tindakan represif structural terhadap TKI yang bekerja di sana. Ketika perseteruan itu mencapai puncaknya haruskah peperangan itu terjadi lagi? Padahal Indonesia dan Malaysia adalah Negara serumpun, Negara bertetangga yang bahkan sampai kiamatpun akan terus bertetangga.

Sekarang tinggal bagai mana kita menyikapinya??

 
9 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 20, 2010 in Uncategorized

 

Tag: , , , ,

9 responses to “Penyebab Permusuhan Indonesia-Malaysia

  1. maulanafirmansyah

    Oktober 22, 2010 at 2:14 pm

    jun….. artikelmu sing iki uapik cakkk

    kagum aq…

     
  2. indah sari

    April 11, 2011 at 10:11 am

    akhirnya saya bisa tau bagaimana asal usul kita bermusuhan dgn m.sya… Tapi rasanya permusuhan bibit permusuhan itu akan trs ada sampai anak cucu kita,menurut rakyat m.sya kita selalu yg salah,padahal negaranya yg busuk!!

     
  3. ahmad

    Agustus 10, 2011 at 12:49 pm

    hanya satu kata untuk bisa menuntaskan ini semua……….. yaitu
    PERAAAAAAANNNNG………………………..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

     
  4. wak ketari blues

    September 27, 2011 at 1:29 am

    ouh,begitu cerita nya.. yaa, Melaya emang pndai mensmbnyikan sejarah dn mereka-reka cerita
    emang dasar x kenang budi..kalau tiada Sabah dan Sarwak entah macam mna masa depan Melaya (semanjung Malaysia),mungkin korg x tau kisah dn cerita sebenar kenapa Melaya ingin Sabah dan Sarawak bergabung dalam Malaysia.

    Perjanjian Malaysia

    Pada 9 Julai, 1963, Temenggong Jugah anak Barieng, Datu Bandar Abang Haji Mustapha, dan Ling Beng Siew, sebagai perwakilan dari Sarawak, menurunkan tandatangan masing-masing ke atas Perjanjian Malaysia atau Malaysia Agreement di London, England.

    Ekoran itu Persekutuan Malaysia akhirnya terbentuk pada 16 September tahun sama melibatkan Malaya, Singapura, Sabah dan Sarawak sebagai empat wilayah-wilayah yang bergabung.

    Satu kemusykilan. Tiga perwakilan dari Sarawak — Jugah, Abang Mustapha dan Ling –, adakah mereka layak mewakili Sarawak: Jugah yang berbangsa Iban cumalah seorang buta huruf, tidak tahu membaca atau menulis dan hanya tahu fasih bercakap dalam bahasa english. Abang Mustapha mewakili Melayu Kuching, mudah dianggap sebagai tali-barut British oleh kebanyakkan orang Sarawak, Cina Ling adalah Cina Foochow kaya dari Sibu. Dia tidak akan rugi apa-apa, yang ada cuma keuntungan buat dia.

    Kemusykilan lain — Adakah mereka sedar apa yang mereka tandatangani?

    Bermula dari detik bersejarah itu berlaku zaman kemelesetan Sarawak. Sarawak pernah dirajai oleh White Rajahs selama 100 tahun sehingga 1941, pernah ditawan Jepun selama tiga tahun lapan bulan, dan 17 tahun sebagai koloni British. Namun pengalaman berada di bawah telunjuk tiga kuasa asing ini tidak seburuk cabaran yang bakal dihadapi Sarawak dalam Konsep Malaysia 1963, sehingga kini.

    Seawalnya bermula negara ini tidak ada konsep sebenar ‘Malaysia”. Fungsi sebenar Persekutuan Malaysia hanyalah supaya pengaruh Malaya dapat panjang tangan sehingga ke Sabah. Apabila mereka campurtangan di Sabah dan Sarawak, dengan bertopengkan kepentingan Kerajaan Persekutuan, pengaruh Malaya di kedua-dua negeri ini semakin kukuh.

    Singapura membantah campurtangan Malaya. Balasan keengkaran mereka Singapura dikeluarkan dari Persekutuan Malaysia empat-wilayah. Sebaliknya penyingkiran itu memberi rahmat kepada Singapura, seperti yang kita boleh lihat hari ini.

    Berbanding dengan Singapura, Sabah dan Sarawak sebaliknya nekad untuk kekal dalam Persekutuan Malaysia tiga-wilayah. Balasan kesetiaan mereka pada Malaysia? Sabah dan Sarawak menjadi semakin miskin kerana mereka hanya dibenarkan menikmati 5 peratus kekayaan hasil semulajadi mereka sendiri. Peratusan yang lain diserahkan kepada Kerajaan Persekutuan untuk membangunkan Malaya atau bagi memperkayakan individu-individu tamak di Malaya.

    UMNO adalah kuasa politik paling besar di Malaya. UMNO juga mengawal Kerajaan Persekutuan. Pengaruh UMNO yang hampir tidak terbatas dapat mendesak dengan mudah pengaruh dan keputusan mereka ke atas Sabah dan Sarawak sebagai dua negeri-negeri dalam Persekutuan Malaysia. Syarat-syarat Perjanjian Malaysia semakin terabai. Akhirnya UMNO bertapak di Sabah awal tahun 90-an, sehingga ke hari ini.

    Bagaimana UMNO menakluki Sabah? Dengan bantuan pendatang-pendatang asing. Mereka diberi kewarganegaraan Malaysia serta-merta oleh UMNO Malaya, dengan syarat pendatang asing ini mesti menyokong kuasa asing UMNO semasa pilihanraya umum di Sabah. Pengundi dari kalangan pendatang asing, berjumlah lebih separuh juta, dengan mudah mengatasi jumlah undi rakyat jati Sabah. Sabah kini milik UMNO.

    Sarawak? UMNO tidak perlu ‘menakluki’ Sarawak selagi Ketua Menteri Sarawak Taib Mahmud dan BN Sarawak masih boleh mengawal penduduk Sarawak demi memenuhi kepentingan-kepentingan UMNO Malaya. Kawalan ini dilakukan dalam pelbagai cara: strategi pecah dan perintah, ugutan, paksaan, dan sogokkan wang.

    Merenung kembali keputusan-keputusan yang diambil oleh pemimpin-pemimpin Sarawak sepanjang proses pembentukkan Malaysia dari Mei 1961 sehingga September 1963, tidak dapat dinafikan Sarawak telah diperbodohkan oleh musang berbulu ayam dari tanah Malaya.

    Muslihat Malaya

    Apa yang mengamit keinginan Sarawak sehingga mahu bersekutu dengan Malaya dalam Persekutuan Malaysia? Ianya lahir dari hujah bernas Tunku Abdul Rahman Putra Al Haj, Perdana Menteri Malaysia yang pertama, juga Bapa Kemerdekaan. Beliau berkata, “Tidak dapat dielakkan lagi kita mesti pandang ke hadapan ke arah objektif ini dan mari kita memikirkan satu rancangan dimana lima wilayah dalam rantau ini boleh digabungkan dalam satu kerjasama politik dan ekonomi.”

    Usul ini sebenarnya bermula dari permintaan Singapura supaya Temasik dan Semenanjung Tanah Melayu bergabung dalam satu negara. Ketua Menteri Singapura di pertengahan 1950-an, David Marshall, beriya-iya mahu mencantumkan Singapura dan Malaya. Namun Tunku Abdul Rahman masih teragak-agak.

    Pada tahun 1959 Lee Kuan Yew dari People’s Action Party mengambil alih jawatan Ketua Menteri Singapura. Beliau juga memberi usul yang sama: Malaya dan Singapura perlu bergabung demi sebab-sebab politik dan ekonomi. Riaksi Tunku Abdul Rahman masih dingin.

    Apabila pergerakan berhaluan kiri di Singapura menjadi ancaman besar buat Singapura dan Malaya, Tunku mula menunjukkan kesediaan untuk bergabung. Singapura boleh jatuh ke tangan pihak berhaluan kiri, dan memandangkan Singapura terletak bersebelahan dengan Semenanjung Tanah Melayu, Malaya akan terasa bahang Komunis.

    Tetapi pada masa yang sama, Tunku dan UMNO berhadapan dengan satu lagi bahaya. Jumlah penduduk Cina di Singapura bila dicampurkan dengan jumlah penduduk Cina di Malaya akan mengatasi jumlah penduduk Melayu. Sekiranya Malaya dan Singapura bercantum sebagai sebuah negara, etnik Melayu bukan lagi bangsa majoriti di negara baru itu.

    Di kacamata Malaya, bergabung dengan Singapura ada baik buruknya.

    Bak kata pepatah ditelan mati emak diluah mati bapa. Melayu Malaya dalam dilema.

    Di sini terletaknya peranan besar Sabah, Sarawak dan Brunei dalam idea Malaysia 1963. Penyelesaian masalah Malaya terletak di Borneo. Hampir 70 peratus dari 1.3 juta jumlah penduduk di Sabah, Sarawak dan Brunei terdiri daripada Muslim dan kaum pribumi. Jumlah ini bila dicampurkan dengan jumlah penduduk Melayu di Malaya akan mengatasi jumlah penduduk Cina.

    Maka cara paling selamat buat Malaya untuk bergabung dengan Singapura ialah membawa masuk Sabah, Sarawak dan Brunei serentak ke dalam sebuah negara baru dan menjadikan 90% bangsa bukan melayu di-melayukan.Supaya Cina tidak jadi bangsa majoriti. Bagaimanapun, faktor kaum ini tidak digembar-gemburkan pada ketika itu.

    Matematik kaum sebegini, walaubagaimanapun, tertakluk pada andaian: “Sekiranya berlaku isu-isu perkauman melampau, masyarakat pribumi Borneo akan cenderung untuk berpihak kepada Melayu Malaya kerana Melayu dan pribumi Borneo berasal dari rumpun bangsa yang sama sedangkan bangsa Cina adalah bangsa asing.” Itu pendapat Malaya; tidak pasti adakah Borneo juga berpendapat sedemikian.

    Tetapi tidak penting apa pendapat Borneo, kerana Borneo yang kurang arif dari segi politik boleh dimanipulasikan atau dipaksa atau diugut supaya berpihak pada Malaya bila keadaan mendesak.

    Borneo Federation

    Apa pula riaksi Borneo terhadap idea Malaysia? Kerajaan British selepas perang dunia kedua sememangnya mahu mengakhiri zaman kolonisasi mereka di rantau ini, dan lagi baik kalau proses ini boleh berlangsung secara aman. Dalam ertikata lain England sudah bersedia memberi kemerdekaan kepada negara-negara koloninya.

    Sebab itu apabila Tunku Abdul Rahman membuat usul koloni-koloni British, termasuk Sabah dan Sarawak, bergabung di dalam satu negara merdeka bernama Malaysia cadangan tersebut disambut dengan positif. Pada bulan Jun 1961 Sabah, Sarawak dan Brunei dipanggil untuk berunding di Singapura di hadapan Lord Selkirk, Pesuruhjaya Agung Britain bagi Asia Tenggara.

    Gabenor Sarawak Sir Alexander Waddell, Gabenor Sabah Sir William Goode dan Pesuruhjaya Tinggi British di Brunei D.C White menghadiri mesyuarat tersebut. Borneo sudah maklum kehendak Kerajaan British untuk menarik diri dari wilayah-wilayah jajahan British. Berlandaskan kesedaran ini pemimpin-pemimpin British Borneo tidak membantah pembentukkan Malaysia.

    Tetapi mereka turut mencadangkan satu lagi usul: Sabah, Sarawak dan Brunei bergabung terlebih dahulu dalam Borneo Federation sebelum bergabung dalam Malaysia.

    Usul ini — Borneo Federation — dipertimbangkan secara serius oleh wakil-wakil dari Borneo. Walaupun Brunei masih ragu-ragu, pilihan seterusnya ialah supaya Sabah dan Sarawak bergabung terlebih dahulu dalam Borneo Federation.

    Borneo Federation mendapat sokongan dari pemimpin-pemimpin tempatan Sarawak, umpamanya Datu Bandar Abang Haji Mustapha dan Temenggong Jugah anak Barieng. Oleh itu mereka terkejut bila Tunku Abdul Rahman mencadangkan percantuman Sabah, Sarawak dan Malaya sebaliknya. Sementara pemimpin-pemimpin tempatan Sarawak masih mempertimbangkan pelawaan Tunku Abdul Rahman, Ong Kee Hui, Pengerusi SUPP bangkit membantah sekeras-kerasnya idea Malaysia.

    Ong, bersama dengan A.M Azahari, ketua Parti Rakyat Brunei, dan Donald A. Stephens dari Sabah, kemudiannya menubuhkan United Front bagi menentang idea Malaysia. United Front menegaskan “Usul penubuhan Malaysia tidak dapat diterima sama sekali oleh rakyat Sabah, Sarawak dan Brunei.”

    SUPP di bawah teraju Ong juga mendapat sokongan dari SNAP. Diketuai oleh Iban– Stephen Kalong Ningkan, SNAP menambah “Apa-apa usaha untuk meletakkan Sarawak di bawah pengaruh atau kawalan kuasa asing akan ditentang sekeras-kerasnya.”

    Kena sudah

    Tunku Abdul Rahman tidak berputus asa. Beliau membuat beberapa kunjungan ke Sarawak antara Julai dan Ogos 1961. Di kesempatan-kesempatan itu Tunku menerangkan secara terperinci rancangan penubuhan Malaysia Usaha Tunku membuahkan hasil. Suara-suara yang membantah idea Malaysia semakin berkurangan. Beliau juga menjemput pemimpin-pemimpin dari Sabah dan Sarawak melawat Semenanjung Tanah Melayu untuk melihat sendiri keserasian Borneo dan Malaya.

    Namun ini semua adalah satu sandiwara. Pemimpin-pemimpin Sabah dan Sarawak tidak mencurigai muslihat Malaya.

    Pelawat-pelawat dari Borneo terpegun dengan kemajuan Kuala Lumpur. Mereka sangat tertarik dengan pencapaian Kerajaan Persekutuan Tanah Melayu dalam program-program pembangunan kawasan luar bandar. Sekembalinya mereka ke Borneo mereka yakin penubuhan Malaysia adalah satu idea yang sesuai buat Sabah dan Sarawak.

    Melihat kesungguhan mereka, Gabenor Waddell pada bulan Julai 1961 menghantar pemimpin-pemimpin tempatan Sarawak untuk menghadiri Persidangan Commonwealth Parliamentary Association di Singapura untuk berbincang secara bersemuka dengan wakil-wakil dari Malaya dan Singapura berkenaan penubuhan Malaysia.

    Sekilas pandang idea Malaysia, yang bermaksud perkongsian aspirasi politik dan ekonomi sesama negara-negara bekas jajahan British, boleh menguntungkan semua pihak. Tetapi Borneo terlalai satu perkara penting tentang Malaya.

    Ekonomi Malaya ketika itu sudah mencapai satu tahap optimal dimana had ekonominya tidak akan berkembang lagi… selagi Malaya tidak menemui satu wilayah baru yang kaya dengan sumber ekonomi, yang boleh digunakan oleh Malaya untuk mengembangkan ekonomi Malaya. Sabah dan Sarawak adalah talian hayat ekonomi Malaya yang sudah haus.

    Petroleum

    Sabah dan Sarawak sempat mengesyaki kepentingan Malaya dalam penubuhan Malaysia. Didorong oleh rasa was-was ini Borneo mengenakan syarat-syarat Perjanjian Malaysia sebelum Sabah dan Sarawak boleh bersetuju untuk bergabung dengan Malaya dan Singapura. Syarat-syarat ini boleh membela nasib rakyat Sabah dan Sarawak sekiranya ada cubaan mahu mengeksploitasikan Borneo.

    Tetapi Borneo terlupa satu perkara penting — sumber Petroleum.

    Kawalan ke atas hasil dan sumber petroleum oleh Sabah dan Sarawak seharusnya menjadi salah-satu syarat-syarat Perjanjian Malaysia. Malaya hanya berdiam diri tentang ini. Kerana mereka tahu di bawah peruntukan undang-undang antarabangsa sumber petroleum luar pantai adalah kepunyaan kerajaan persekutuan sesebuah negara.

    Ledakan politik Sarawak

    Kesedaran politik di Sarawak juga amat terasa pada ketika ini. Banyak parti-parti politik yang diwujudkan sejurus selepas Tunku Abdul Rahman mencadangkan idea Malaysia pada Mei 1961. Sebelum itu hanya terdapat dua parti di Sarawak: SUPP (ditubuhkan 1959) dan Parti Negara Sarawak PANAS (1960).

    Sehingga Jun 1963, empat lagi parti ditubuhkan di Sarawak: SNAP (Jun 1961), Barjasa (Disember 1961), SCA (Julai 1962) dan Pesaka (Ogos 1962).

    Kesemua parti-parti ini menyokong penubuhan Malaysia, kecuali SUPP.

    SUPP mahukan kemerdekaan dicapai melalui Borneo Federation — Sabah dan Sarawak — terlebih dahulu sebelum bergabung dengan Malaya dan Singapura.

    Maka bermulalah satu aktiviti berkempen yang pesat apabila parti-parti politik memasuki kawasan pendalaman. Masyarakat Melayu-Muslim di Kuching, termasuk Melanau Muslim di Sibu, secara amnya menyokong Malaysia. Melayu-Muslim di Miri, Limbang dan Lawas, termasuk masyarakat Kedayan, menentang penubuhan Malaysia. Mereka bersetuju dengan aspirasi Azahari dari Brunei dan Donald Stephens dari Sabah.

    Masyarakat Iban menyokong Malaysia. Iban Stephen Kalong Ningkan dan rakan-rakan beliau yang berpelajaran dari Simanggang dan Saribas meletakkan syarat-syarat sebelum penubuhan Malaysia boleh dipertimbangkan.

    Masyarakat Kayan dan Kenyah menentang penubuhan Malaysia, dengan alasan mereka tidak mahu Iban berkuasa di Sarawak. Iban adalah musuh tradisi Kayan dan Kenyah.

    Cina SUPP dipengaruhi unsur-unsur berhaluan kiri. Mereka menganggap Malaysia hanyalah muslihat British untuk meneruskan pengaruh mereka di Asia Tenggara secara tidak langsung. Ahli-ahli SUPP dari kaum Melayu, Iban dan Bidayuh berpendapat sama.

    Secara realitinya, penubuhan Malaysia adalah satu muslihat Persekutuan Tanah Melayu untuk menggantikan pengaruh British di rantau ini. Dalam ertikata lain, Malaysia hanyalah perintah British yang berwajah Malaya. Bak kata pepatah keluar mulut buaya masuk mulut naga.

    Tetapi ini berlaku kerana majoriti masyarakat Sarawak, terutama sekali penduduk luar bandar, tidak memahami sebaik-baiknya cadangan negara Malaysia serta implikasinya. Memandangkan situasi begini telah berlaku semasa penubuhan Malaysia 1963, timbul persoalan adakah Sarawak menyertai Malaysia dengan keputusan majoriti yang ikhlas; dengan fikiran yang luas, dan waras.

    British menghasut

    Menjelang pertengahan 1961 Perdana Menteri British Harold MacMillan memberi restu ke atas cadangan penubuhan Malaysia. Cadangan untuk membuat Borneo Federation diketepikan.

    Dalam bulan Januari 1962 satu kenyataan rasmi tentang posisi Kerajaan British berkenaan Malaysia telah dikeluarkan. Arahan juga diberi kepada pegawai daerah-pegawai daerah British yang berhubung langsung dengan masyarakat tempatan untuk memberi penekanan pada kebaikan-kebaikan Malaysia sebagai cara terbaik menangkis ancaman anasir-anasir komunis dan serangan dari Indonesia, kononnya. Dalam ertikata lain, pihak British memainkan peranan besar membentuk persepsi positif masyarakat tempatan terhadap cadangan pembentukkan Malaysia. Apa yang molek kata orang Inggeris molek juga kata orang Sarawak.

    Satu suruhanjaya yang diketuai Lord Cobbold kemudiannya ditubuhkan untuk meninjau pandangan umum masyarakat tempatan Sabah dan Sarawak terhadap cadangan penubuhan Malaysia. Walaubagaimanapun, Suruhanjaya Cobbold tidak boleh dianggap sebagai satu badan berkecuali — tiga daripada lima ahli panelnya, termasuk pengerusi suruhanjaya tersebut, adalah lantikan Kerajaan British manakala dua selebihnya adalah lantikkan Kerajaan Malaya.

    Bila perkara ini diambilkira maka keputusan yang diperolehi oleh Suruhanjaya Cobbold boleh diragui kebenarannya.

    Antara Februari 19 dan April 17, 1962, Suruhanjaya Cobbold mengadakan sesi temuramah di hadapan kamera, dibuat sedemikian supaya boleh kelihatan peserta-peserta memberi pandangan dengan terbuka. Suruhanjaya Cobbold juga meneliti sejumlah 1,600 surat-surat dan rakaman pengakuan bertulis diterima dari individu-individu, pertubuhan-pertubuhan atau parti-parti politik. Dalam satu sesi temuramah bersama Lord Cobbold, bila ditanya pandangan berkenaan cadangan penubuhan Malaysia, seorang peserta Iban menjawab, “Barang ko nuan, Tuan” (Mana-manalah yang Tuan rasakan baik).

    Jawapan sebegini sudah cukup mencerminkan kekeliruan yang dialami kebanyakkan orang tempatan di Sarawak pada ketika itu. Puan Tra Zahndar, ahli Council Negri, pernah menyatakan bahawa kebanyakkan penduduk tempatan “tidak tahu banyak atau tidak tahu langsung tentang cadangan penubuhan Malaysia tetapi mereka memilih untuk menyokong cadangan itu tanpa usul periksa kerana mereka telah diberitahu bahawa Malaysia adalah baik untuk mereka.” Molek kata orang Inggeris molek juga kata orang Sarawak.

    Faktor Cobbold

    Suruhanjaya Cobbold menerbitkan keputusan temuramah tersebut di dalam ‘Report of the Commission of Enquiry, North Borneo and Sarawak in August 1962.’ Laporan itu ada menyebut “terdapat sebilangan besar kelompok masyarakat di pendalaman yang daif tentang cadangan penubuhan Malaysia.”

    Secara kesuluruhannya keputusan yang dicapai oleh Suruhanjaya Cobbold boleh diringkaskan seperti berikut:

    “Satu pertiga daripada penduduk… menyokong tanpa syarat cadangan penubuhan Malaysia. Sepertiga yang lain menyokong cadangan penubuhan Malaysia tapi dengan syarat… Satu pertiga yang selebihnya terbahagi kepada dua kelompok: Satu pihak mahukan kemerdekaan sendiri terlebih dahulu sebelum menerima idea Malaysia pihak yang satu lagi mahu British terus memerintah selama beberapa tahun lagi.”

    Dalam ertikata mudah, tidak ada referendum atau keputusan muktamad dalam hasil temuramah Suruhanjaya Cobbold. Sebenarnya langsung tidak ada referendum, dan perangkaan yang diperolehi adalah terlalu kasar untuk satu-satu keputusan boleh dibuat dari maklumat keputusan Suruhanjaya Cobbold.

    Cobbold ada memberi kata-kata peringatan:

    “Perlu diambilkira Malaysia adalah satu perikatan beberapa rakan-kongsi, bergabung di bawah satu kepentingan yang sama, untuk mengujudkan satu negara merdeka, tetapi masing-masing mengekalkan sifat-sifat individu mereka.

    “Sekiranya terdapat cadangan untuk Persekutuan Tanah Melayu mengambil alih wilayah-wilayah di Borneo dan melenyapkan sifat-sifat individu Sabah dan Sarawak, Malaysia tidak mungkin akan, dalam jangkaan saya, diterima secara amnya atau tidak akan berjaya.”

    Realiti hari ini: Malangnya perkara yang dikhuatiri boleh berlaku sudah pun berlaku dan sedang berlaku di Sabah dan Sarawak sekarang.

    Satu jawatankuasa Inter-Governmental ditubuhkan, atas saranan Suruhanjaya Cobbold. Jawatankuasa ini lah yang bertanggungjawab memperhalusi butiran-butiran dalam perlembagaan Malaysia dimana syarat-syarat permintaan Sabah dan Sarawak digembelingkan ke dalam Perjanjian Malaysia. Jugah dan Mustapha memainkan peranan penting sebagai perwakilan Sarawak dalam usaha ini. Persoalan: Seorang Iban yang tiada pendidikan dan seorang Melayu yang bersubahat dengan British. Bagaimanakah mereka boleh dianggap layak berunding bagi pihak Sarawak?

    Syarat-syarat penting dalam perjanjian tersebut termasuk: kebebasan beragama, status bahasa Inggeris, imigresen, tanah, perwakilan di Dewan Rakyat dan Dewan Negara, keistimewaan masyarakat pribumi, dan pengagihan geran-geran pembangunan.

    Pilihanraya tempatan diadakan pada Jun 1963. Pilihanraya ini menjadi satu referendum yang menimbang kemasukkan Sarawak ke dalam Persekutuan Malaysia. Sarawak Alliance, ditubuhkan pada Ogos 1962, merangkumi Panas, Barjasa, Pesaka, SCA, dan SNAP. Sarawak Alliance menyokong penubuhan Malaysia. Mereka menang dalam pilihanraya tersebut. SUPP yang anti-Malaysia tewas. Tetapi sokongan pengundi-pengundi yang bersimpati dengan perjuangan SUPP tidak boleh dipandang rendah.

    Pilihanraya yang sama telah diadakan di Sabah pada Disember 1962.

    Ekoran tekanan dari Negara Filipin dan Negara Indonesia, satu lagi penilaian dibuat ke atas pandangan orang awam berkenaan cadangan penubuhan Malaysia dan keputusan pilihanraya disemak semula. Kali ini United Nations Malaysia Mission yang diketuai Laurence Michelmore dipertanggungjawabkan untuk mengesahkan keputusan pilihanraya. Misi tersebut dijalankan bermula dari Ogos 16 sehingga ke September 5, 1963.

    United Nations Malaysia Mission mengeluarkan satu laporan pada September 13, 1963, mengesahkan rakyat Sabah dan Sarawak menerima secara positif cadangan penubuhan Malaysia; bahawa mereka sedar perubahan status yang boleh berlaku sempena penubuhan Malaysia; bahawa kehendak mereka telah disampaikan melalui satu proses yang demokratik, yang dijalankan secara adil.

    Kenyataan ini mengundang banyak kecurigaan. Samada dulu atau sekarang, tiada proses pilihanraya yang bebas dari pemalsuan dan amalan-amalan tidak beretika, lebih-lebih lagi di Malaysia, dulu dan sekarang. Sekiranya satu referendum dibuat hari ini, tanpa campurtangan pihak-pihak yang berkepentingan, majoriti orang SabahSarawak akan memilih untuk keluar dari Malaysia.

    Pada 16 September, 1963, Sarawak bergabung dengan Sabah, Singapura dan Malaya untuk membentuk satu negara persekutuan bernama Malaysia. Maka bermulalah satu babak baru dalam sejarah Borneo. Babak yang mengisahkan penyerahan tugas daripada penjajah British kepada penjajah Malaya ke atas wilayah jajahannya SabahSarawak. Babak seterusnya — Sabah & Sarawak keluar Malaysia.

     
  5. pieces

    November 18, 2011 at 4:19 pm

    malaysia adalah negara yang makmur,aman dan damai..indonesia cemburu pada malaysia kerana indonesia negara yg tidak aman..,selalu terjadi bencana alam..tambahan pula..banyak warga indon datang ke malaysia untuk mencari pekerjaan..tidak malu kah..??sedar dog..indonesia tidak mengenang budi juga..MALAYSIA TANAH AIR KU YANG TERCINTA..peperangan tidak akan menyelesaikan masalah ini..justeru,akan menjadi lebih teruk..berdamailah wahai warga indonesia dan rakyat malaysia……….

     
    • herjunochondro

      November 21, 2011 at 1:05 pm

      maaf bung kita tidak cemburu dengan negara anda….
      INDONESIA negeri yang aman,teror dinegara kita disebabkan oleh negara anda..
      tidak ingatkah anda dengan dr. azahari & nordin m top
      indonesia kirim TKI ke negeri anda kenapa harus malu, kan mereka juga cari nafkah dgn halal…
      sebenarnya kita tidak mau adanya permusuhan ini jika anda tidak memprovokasi kita
      ingat anda mengakui banyak budaya kami apa anda tidak lebih malu???

      INDONESIA NEGERI YANG CINTA DAMAI

       
  6. surya

    April 18, 2012 at 4:50 am

    pieces: jaga omongan anda..kalaupun tidak ada TKI yang bekerja di negara anda,mungkin perekonomian anda akan jatuh kejurang kebangkrutan mungkin juga negara anda akan sama dengan negara ethiopia (negara TER-miskin di DUNIA). dan pula ketika negara anda baru merdeka,negara anda mengimpor para tenaga pengajar untuk mengajari rakyat malaysia untuk membaca,menghitung,dan banyak hal lainnya…ingatlah itu dengan baik-baik…

     
  7. HIDUP MATI TETAP INDONESIA

    Mei 30, 2012 at 7:21 pm

    Malaysia anjing keparat sini ayo perang, indonesia tak akan takut, kalo perlu panggil tuh sekutu kalian inggris keparat.
    Kalo terjadi perang beneran kalian malaysia dengan mudah akan dihabisi oleh TNI

     
  8. ry8

    Desember 1, 2012 at 3:06 pm

    Kagek rai kau ngentak giaku suki indonesia

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: